LAPORAN ANJANGSANA TEMAN II 02 april 2016
Posted On: 18 April 2016 at 16:22:31
By Lita Kusumasari
SURVEY KEDIAMAN SUSANTO
Berbekal alamat yang diberikan oleh Andrias Wurika, maka Qomarul dan Lita berangkat untuk survey lokasi Susanto pada hari Selasa 29 Maret 2016 mengingat Sabtu sudah dilaksanakan acara anjang sana. Rumah berhasil ditemukan dan bertemu dengan Adik Santo. Beliau bercerita banyak hal tentang alm Susanto. Almarhum seseorang yang pendiam di rumah dan memiliki kasih yang besar. Alm Susanto pertama selepas SMA diterima di Teknik Kimia UPN kemudian di tahun kedua mencoba UGM dan diterima di Kedokteran Gigi. Tidak tahan melihat darah maka di tahun ketiga mencoba lagi masuk UGM dan diterima di Akuntansi sampai dengan lulus. Beliau kemudian bekerja sebagai pegawai BPK dan BRI. Pada saat berdinas di Bali beliau sakit dan dibawa ke Yogyakarta untuk kemudian terdeteksi kanker.
Kami masih bercerita pada saat ibunda Susanto masuk dari bepergian. Pada saat diberitahu niat kunjungan kami, beliau langsung meletakkan semua tas dan duduk menemui kami seakan kami adalah tamu penting beliau. Antusias beliau diingatkan oleh adiknya Susanto untuk sholat terlebih dahulu. Beliau serasa tidak rela tetapi akhirnya menuruti hal tersebut. Selesai sholat kita mengutarakan maksud kedatangan dan beliau dengan ramah mempersilakan. Adiknya meminta ijin karena saat hari anjang sana akan pergi keluar kota sehingga kita nantinya akan ditemui ibundanya. Kami bersepakat dan berpamitan pulang. Pelukan ibunda kepada Lita menjadi lebih erat dengan berbisik saya kehilangan anak saya tetapi teman temannya akan menggantikan menjadi anak saya semuanya.
RAPAT KOORDINASI
Dilakukan lewat rapat imajiner melalui WA antara Anomsari, Lita, Agtia, dan Arif. Kunjungan anjangsana ke Mimin telah dikonfirmasi positif oleh Anomsari. Pada hari itu sebetulnya keluarga Mimin ada pekerjaan merias tetapi disanggupi setelah merias jam 15.00 sudah akan berada di rumah untuk menyambut kita semua.
Lita akan membelikan kue dan bunga. Agtia memastikan batik. Arif memastikan kain batik yang akan diberikan kepada keluarga almarhum Susanto dan Mimin. Mobil disepakati menggunakan mobil Qomarul, Fauzi dan Lita.
Fauzi pada malam sebelum anjangsana memberitahukan bahwa tidak bisa mengikuti secara penuh anjang sana sehingga mobil tidak dapat digunakan setelah itu. Disepakati mobil digantikan dengan makan siang di Suharti (thank you Fauzi buat ayam dan es kopyornya).
ANJANGSANA SUSANTO
Banyak berkah saat anjangsana ini karena beberapa teman secara mengejutkan dapat bergabung. Anjangsana ini diikuti wakil dari luar negeri Fauzi, dari luar kota Romi, Anomsari (Jakarta) dan Evi (Kediri) serta pemain tetap dan baru dari Yogyakarta (Qomarul, Agtia, Dityo, Juno, Hari, dan Lita). Suasana gurauan dari Juno dan Dityo menyemarakkan anjangsana.
Sampailah kita di rumah Susanto yang sudah disambut ibunda dan adiknya (membatalkan kepergian untuk menemui kita). Kami bersilaturahmi dan saling memperkenalkan diri. Ibunda Susanto berkali-kali mengungkapkan rasa bahagia dan terharu dengan kedatangan teman teman Susanto. Seolah semua kenangan muncul kembali.
Ada suatu cerita yang dibagikan dan menjadi pembelajaran bagi kami. Suatu masa setelah vonis dokter tentang sakit kanker yang dideritanya. Susanto seperti halnya manusia berusaha menolak takdir dan merasakan seolah kematian tidak akan menyentuhnya, seiring berjalannya waktu almarhum dapat menerima takdir dan mempersiapkan dirinya sebagai hamba Allah sebaik-baiknya. Dia meminta adiknya untuk ke Bali dan memohonkan semua maaf atas kesalahannya kepada Pandita Bali (Pemuka Adat Bali). Dilaksanakanlah dan Pandita itu berpesan biasanya jika ada kasus seperti ini, maka usia tinggal berbilang hari. Adiknya pulang dan menemui almarhum di rumah sakit. Almarhum berpesan lagi untuk berkeliling menemui pemuka agama di lingkungan sekitarnya untuk memohonkan maaf. Adiknya melaksanakan pesan beliau. Ibunda almarhum diberitahu bahwa ibunda tidak boleh bersedih, Susanto akan baik-baik saja. Setiap waktu yang masih dimungkinkan Susanto akan bercengkerama dengan ibundanya dan mempersiapkan mental ibunda terhadap takdir. Susanto meminta ijin untuk pulang ke rumah dari rumah sakit untuk merayakan Idul Fitri terakhir di rumahnya. Selesai idul fitri, almarhum kembali dirawat di rumah sakit. Ayahanda Susanto telah meninggal dan pada saat itu akan diperingati sebagai 1.000 harinya. Susanto berpesan laksanakan saja tahlilan tidak perlu dirisaukan karena Susanto akan berpulang saat bersamaan. Adiknya diberikan pesan saya besok mati, tolong ATM ini dipegang dan semua biaya yang berkaitan dengan saya diambilkan dari uang ini. Subhanallah, beliau berpulang seperti janjinya dan semua keperluannya tertutup dari uang ATM yang telah diberikannya. Sampai akhir hayat beliau berusaha tidak merepotkan dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Selamat jalan sahabatku semoga khusnul khotimah adalah jalanmu… amin….
ANJANGSANA MIMIN
Fauzi dan Evi harus melanjutkan perjalanan sehingga tinggallah kami berdelapan ke rumah Mimin. Eko Cidux menemui di sana. Di gang rumah Mimin, Eko telah menunggu tetapi anehnya dia menunggu tidak di depan rumah Mimin tetapi setelahnya sehingga kami mendekati Eko dan diminta berputar kembali. Untunglah kami sabar, kesabaran kami telah dilatih Juno yang mengatakan saat Juno nakal maka istrinya mengambil air wudhu dan sholat sehingga Juno akhirnya tiarap dan patuh kepada istrinya yang dipanggil berdasarkan situasi kadang Pembayun , kadang Sayang, kadang juga Darling….tergantung impresi yang dibutuhkan. Jadi menghadapi Eko kami tawakal saja.
Begitu memasuki rumah Mimin telah tersedia buku tamu dan kami semua diminta mengisinya. Orang tuanya menyambut hangat kehadiran Anomsari dan Romi yang mungkin memiliki kemiripan dengan Mimin. Beliau bertanya dimanakah Lita setelah saya memperkenalkan diri, orang tuanya tertegun melihat perubahan bentuk. Di sinilah saya belajar tawakal yang kedua.
Kami melihat ruang tamu yang hangat dengan banyak foto Mimin. Salah satu pigura foto bertuliskan “Bravo Padmanaba” yang dituliskan oleh anaknya. Tulisan itu sangat bermakna. Orang tuanya berpesan pertama kali adalah tolong mohon maaf apabila Mimin ada kesalahan dan sampaikan ucapan terima kasih saya sekeluarga atas bantuan dan pertolongan dari semua sahabat-sahabat di Padmanaba. Beliau bercerita Mimin tidak ingin merepotkan orang lain sehingga beliau memohon maaf tidak dapat memberitahu penyakit Leukimia yang diderita Mimin. Tangan Tuhan bekerja setiap kesulitan selalu hadir sentuhan persaudaraan dari Padmanaba. Beliau sangat tersentuh dengan persaudaraan tanpa pamrih. Berkali kali beliau mengatakan terima kasih dan berpesan tolong dijaga persaudaraan ini. Saya akan ceritakan kepada Mimin saat bertemu di surge, ini saudara-saudaramu mengunjungi, pasti dia akan senang sekali. Mimin meminta anaknya untuk belajar rajin supaya dapat masuk SMA 3.
Suatu cerita terselip setelah Anomsari menghubungi keluarga, maka keluarga mempersiapkan diri dan meyakini kehadiran Mimin. Hal ini diyakini semalam sebelum kunjungan, saat kakaknya sedang bekerja dengan laptopnya tiba-tiba muncul foto pemakaman Mimin. Mari kita doakan yang terbaik dengan Mimin.
Ketika ajal telah mendekat, Mimin bercerita bahwa penderitaannya segera berakhir. Mimin cerita kepada keluarganya untuk jangan khawatir karena saat ini dia didampingi sesosok yang menyerupai Yesus dan mengelus perutnya sehingga tidak terasakan sakitnya. Bahkan Mimin menceritakan saat dia seperti diajak pergi ke padang luas yang penuh dengan bunga bermekaran. Semoga itulah surga tempatmu bersemayam saat ini. Amin
Kepergian Mimin menyisakan duka mendalam bagi keluarganya, tetapi saat bimbang melanda pertolongan selalu ada. Mimin dalam kepergiannya dihantarkan keluarga dan kemudahan-kemudahan tercipta. Mimin dapat keluar dari rumah sakit dengan bantuan pertanggungjawaban teman. Mimin dapat dipulangkan dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan pesawat terakhir sebelum bandara Yogyakarta ditutup karena letusan gunung Merapi di 3 November.
Saat ini kami hanya akan mengingat keceriaan dan ketegaranmu menghadapi kehidupan dan kematian. Damailah di surgaNya sahabatku, kami akan selalu berdoa dan bersyukur atas persaudaraan ini. Terima kasih telah mengisi kehidupan kami dan memberikan keluargamu sebagai keluarga kita semua. Hangatnya pelukan keluargamu serta doa tulus keluargamu semoga menjadi berkah bagi semua saudaramu di Padmanaba, amin.

Agenda