LAPORAN ANJANGSANA TEMAN TAHAP I (19 Maret 2016) DAN SERAH TERIMA BATIK
Posted On: 18 April 2016 at 16:22:18
By Agtia and Arif FD
Diawali dengan rapat virtual dalam grup WA “hanya 10 Menit” yang sangat fenom enal ini pada tanggal 22 Februari 2016, dibahas progres produksi Batik dan rencana anjangsana teman yang sudah wafat . Hasil keputusan sementara bahwa pelaksanaan anjangsana adalah tanggal 19 maret 2016 baik Jakarta dan Yogyakarta, dimana di Jakarta ditunjuk koordinatornya adalah Maya (F4) dan Jogja adalah Riza (F4), dan akan dilakukan survey untuk kandidat teman yang akan dikunjungi yaitu : Unggul (F4), Waris (f2), Mimin (F1), Susanta (F2), dan Apri (Biologi). Survey Unggul oleh Maya, Waris oleh Eko cidoex dan Tri Haryanto(kotrek), Apri oleh Ludmila, Mimin oleh Anom dan Susanta oleh lita dan Tetri.
Rapat Virtual “hanya 10 menit” 12, 13 dan 14 Maret 2016
Setelah melalui perdebatan sengit (biar seru dab..), diputuskan bahwa anjangsana tetap dilakukan tanggal 19 Maret 2016 dimana Jakarta melakukan anjangsana ke keluarga Unggul dan Yogyakarta ke keluarga Apri dan Waris. Dari hasil survey dan kontak dengan keluarga didapat data sebagai berikut (thansk to Mila, Maya dan Eko Cidoex) :
Unggul (F4)
Meninggal karena menderita sakit. Meninggalkan seorang istri dan ketiga anak laki-lakinya yg masih kecil-kecil (kelas 2 SMP, kelas 4 SD dan 3,5 tahun). Istrinya bekerja di BPK dan tinggal di Jakarta.
Apri Sumaryati (Biologi)
Meninggal karena sakit tahun 2012. Beliau meninggalkan suami yang tinggal di Yogyakarta. Keluarga yang bisa dikunjungi adalah kakak kandung Apri yang tinggal di daerah Minggiran, Yogyakarta. Suaminya sampai sekarang belum menikah dan tinggal di Yogyakarta.
Waris (F2)
Meninggal sebagai Korban Gempa Jogja 2006 dimana saat itu beliau sebenarnya masih bersekolah S3 di Bandung dan pada saat kejadian sedang pulang bersama Istri. Saat meninggal, putri beliau masih dalam kandungan nyonya, 6 bulan. Dan sekarang sdh kelas 3 SD. Istrinya bernama dan sekarang tinggal di Bandung.
Dengan data yang ada, maka dalam rapat ini diputuskan
- Dibuka donasi untuk keluarga Waris dan Unggul
- Bentuk bingkisan senilai Rp 400.000 (Jakarta alat sekolah, Jogja Kue) + Kain Batik Seragam. Untuk Jakarta Batik akan di kirim hari Rabu/Kamis (16/17 maret 2016) oleh mas Gosi sebanyak 5 Kain.
- Jadwal pelaksanakan adalah sbb :
Yogyakarta
Jadwal kunjungan :
08:00 – 10.00 ke rumah keluarag Apri di Minggiran, Mantrijeron.
10:30 – 11:30 ke keluarga Waris di Pundong Bantul
Berkumpul di Superindo Jogokaryan, jl . Parangtritis pukul 08:00
JAKARTA
Pukul 10:00 ke keluarga Unggu
Kumpul di Slipi Jaya
Rapat Persiapan Anjangsana di Frezz Milk Yogyakarta 18 Maret 2016, 17:00
Dalama Rangka persiapan angjangsana Yogyakarta, maka dilakukan rapat persiapan untuk besoknya dimana agendanya membahas detail teknis acara besok. Yang hadir pada saat itu adalah : Agtia, Novi, Candra, Hari Suyuti, Lita, Gosi, Sendy dan tambahan tak terduga Qomarul yang hadir hanya 5 menit saja (mememcahkan nama grup hanya 10 menit) sambil nyaut sandwich pesanan candra. Terima kasih untuk Lita yang telah bersedia untuk membelikan buah tangan di parsley untuk acara besok. Gosi juga datang untuk menyerahkan Batik secara simbolis sebanyak 10 kain dan sekaligus laporan bahwa Batik telah jadi sebanyak 210. Dalam rapat ini juga dibahas kebutuhan untuk besok yaitu pembuatan surat pengantar untuk keluarga (thanks to Novi), pembelian bunga untuk nyekar (thanks to Novi), konsumsi pada saat hari H(thanks to Novi dan candra), juga kendaraan yang akan di pakai (thanks to Novi, Agtia dan Candra) serta uang donasi dari teman-teman untuk Istri dan anak keluarga Waris.
Sampai malam hari H-1 sudah terkumpul Rp. 18.500.000. Sampai malam itu disepakati untuk memberikan ke Keluarga (istri dan 3 anak) Unggul Rp. 11.000.000 dan keluarga waris Rp. 7.500.000 (istri dan satu anak).
Peserta terdaftar yang akan anjangsana untuk besok adalah :
1. Riza (coordinator)
2. Agtia
3. Novita
4. Candra
5. Tetri
6. Ludmila
7. Dityo
8. Juno
9. Gosi
10. Eko Cidoex
11. Sendy
Untuk Hari Suyuti dan qomarul tidak bisa ikut karena ada urusan kantor. Rapat selesai pukul 18:45 dengan harapan besok dapat berjalan lancar. Amin
Anjangsana Yogyakarta
Pada tanggal 19, pukul 08:00, berkumpul di Superindo Jogokaryan teman-teman yang akan melaksanakan anjangsana di Yogyakarta. Agtia dan Riza datang terlebih dahulu, disusul candra sendi, eko cidoex, Tetri, Novita, Mila, Juno dan dityo. Gosi mendadak hari itu pamit karena mendadak harus mengantar puteranya hari itu. Tak disangka-sangka pagi itu ketambahan peserta yaitu Pakdhe dan Tri Adianto. Tambah Gayeng. Sempat berfoto sejenak sebelum berangkat.
Pada saat hari H ini, ternyata Alhamdulillah masih ada donasi yang masuk baik yang melalui transfer maupun yang langsung, sehingga last minute, sempat terjadi perubahan total yang disumbangkan untuk masing-masing keluarga Waris dan Apri. Total sumbangan hari H adalah Rp. 26.000.000. Adapun sumbangan yang diberikan untuk Waris adalah Rp. 11.000.000 dan keluarga Unggul Rp. 15.000.000
Ada yang berbeda kali ini, tambah meriah karena kehadiran teman kita yang memang sejak dulu terkenal mbelingnya “Juno”...ngakak pol pokoke...sehingga bisa dibayangkan seperti apa anjangsana kali ini. Banyak ngakaknya pokoknya...setelah bagi-bagi kendaraan (mobil agtia, candra dan Novi), kita berangkat ke rumah Keluarga Apri yang memang tidak jauh dari start point.
Keluarga Apri
Pukul 08:45 kita telah sampai di rumah keluarga Apri , yaitu Rumah Kakak Kandung Apri. Rumah itu memang dulu ditinggali Apri sejak kecil sampai kuliah. Kita disambut oleh kakak beliau bersama istri. Delegasi dipimpin oleh Riza yang memberi pengantar terlebih dahulu. Dari silaturhami ini, kita mendapat nformasi bahwa Apri meninggal tahun 2012 karena sakit. Mendiang meninggal kan Suami dan belum dikarunia anak. Setelah ngobrol ngalor ngidul, sesuai dengan rencana, kita akan ziarah ke makam Apri yang tidak begitu jauh dari rumah tetapi tetap harus naik kendaraan, tepat di dekat perum madukismo sekitar pukul 10:00. Sesampai di makam, kita lakukan doa bersama dan tidak lupa kita berfoto. Ada kejadian yang mungkin hanya kebetulan saja, foto di makam di kamera Tetri tidak ada..hiiiiiiiii...tapi untung di kamera Dityo ada yang berhasil.
Keluarga Waris
Setelah berpamitan di makam Apri, kita langsung berangkat menuju rumah Waris di Pundong, Bantul. Alhamdulliah, waktunya sesuai jadwal. Tepat pukul 10:30, kita sampe di rumah waris. Disana disambut oleh kedua orang tua Waris. Suguhannya sungguh khas desa, ada pisang, kacang godhok dan buah serikaya. Gara2 suguhan ini, Eko cidhoex pun mengamati dan berkata seperti ini :
“3/19/16 3:27 PM: +62 856-2859-872: Cerita dr rmh almarhum waris: fakta membuktikan bhw ibu2 disuguhi kacang dan pisang. Ternyata pilihan pertamanya adlh pisang. Sementara yg pria lbh memilih kacang duluan.”
Di sela-sela obrolan, ada peninggalan almarhum Waris dimana kedua orangtua beliau masih menyimpan yaitu dompet beserta isinya (beberapa pecahan uang kertas Rp. 500, ktp sim dll) . Sebelum kejadi gempa 2006, Waris memang baru sekolah S3 di bandung. Setiap Kamis beliau pulang ke jogja untuk menengok orang tuanya sekaligus juga dengan urusan kampus UGM (Waris adalah dosen UGM). Pada saat pulang gempa 2006 ini, Waris didamping oleh istrinya yang sedang hamil 6 bulan. Menurut cerita Bapaknya, pada saat kejadian gempa 2006,keluarga sudah di luar rumah, tapi memang takdir Allah, tembok sekolah di depan rumah Orang tua Waris, roboh dan menimpa Waris dan Ibunya. Inalillahi wa ina’ilaihi rojiun.
Kami mengobrol dengan orang tua Waris mengenang sewaktu SMA dan tampak disini Ibu beliau masih kehilangan sekaligus bahagia dan senang karena teman-teman SMA masing ingat dengan almarhum Waris. Acara kemudian dilanjutkan dengan ceremonial penyerahan buah tangan sekaligus uang donasi amanah dari teman-teman untuk keluarga Waris sebesar Rp. 11.000.000. Setelah selesai mengobrol, kita pun menuju makam Waris diantar kedua orang tua Waris dan doa bersama di makam.
Dari makam, kita berpamitan dengan keluarga. Ketika pulang, ibu beliau menginginkan spanduk yang kita bawa untuk foto sebagai kenang-kenangan. Alhamduliilah anjangsana hari itu berjalan lancar.
Anjangsana Jakarta
Keluarga Unggul
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Jam 9 pagi kami (Arif, Ikok, Gapit, Delta, Maya dan Vierdha), kumpul di Slipi Jaya. Sesudah salaman dan cipika cipiki (Maya dan Vierdha yaaa), kami cek dulu 'bekal' yang akan kami serahkan ke istri almarhun mas Unggul. Uang amanah sebesar Rp 15 juta dari teman-teman, perlengkapan alat-alat sekolah (Rp 400 ribu dari dana reuni plus sumbangan teman), kue-kue (sumbangan temen juga), kain batik seragam reuni kita dan tentu saja spanduk reuni kita. Biar irit kami menggunakan 1 mobil saja, dengan memperhatikan komposisi tubuh dan jenis kelamin, Ikok duduk di depan, ladies di tengah dan Delta dan Gapit di belakang. Tetep kita selfie dulu yaaa....
Rumah mas Unggul tidak jauh dari Slipi Jaya, hanya butuh waktu 10 menit. Alhamdulillah ada tetangga yang mau dijadikan parkir kendaraan. Begitu sampai rumah mas Unggul, istrinya membukakan pintu bersama anak kedua dan ketiganya. Perlu diketahu, mas Unggul wafat meninggalkan satu orang istri dan tiga anak laki-laki, umur 12 tahun, 9 tahun dan 3 tahun. Waktu wafat putra terkecilnya baru berusia setahun. Menurut istrinya, putra tertuanya, yang paling merasakan kehilangan ayah tercinta, mungkin karena sudah mengerti dan yang paling merasakan kondisi sakit ayahnya. Si sulung juga masih butuh penyesuaian di sekolahnya karena mungkin tidak adanya figur ayah yang melindunginya mempengaruhi proses belajarnya. Kita doakan saja si sulung mampu melewati masa-masa sulit ini.
Agar dapat menjaga anaknya setiap saat, istri mas Unggul meminta pindah dari auditor menjadi staf Litbang BPK, sehingga dia jarang bepergian dinas keluar kota dan lokasi kerja dekat dengan rumah. Selama dia kerja, anak-anaknya dijaga oleh pembantu yang pulang hari. Dapat kami bayangkan rutinitas yang harus dilakukan oleh istri mas Unggul untuk mendidik anak-anaknya.
Sesuai dengan amanah dari teman-teman, titipan kami serahkan ke istri mas Unggul dan anak-anaknya. Peralatan sekolah (tas dan alat tulis) diserahkan ke masing-masing anaknya. Uang sumbangan dan batik kami berikan langsung ke istrinya. Tak lupa istri mas Unggul mengucapkan terima kasih kepada teman-teman SMA 3 mas Unggul, atas support, perhatian dan sumbangannya. Gak nyangka begitu besar perhatian teman-teman, dari waktu mas Unggul sakit sampai dengan sekarang. Jadi terharuuu....
Oh yaaa..., istri mas Unggul menghidangkan pisang juga lhooo... Tapi beda dengan yang di Jogja, temen-temen yang laki yang doyan banget makan pisang, hihihihi....
Dan diakhir kunjungan tak lupa pose dulu dengan spanduk sakti kita, cheeeerrrssssss......
Penutup
Acara Angjangsana Yogyakarta hari ini ditutup dengan makan siang di Rumah Pohon di jl Parangtritis. Seperti biasanya makan siang ini diselingi banyolan dan gojeg mengenang SMA dimana artisnya hari ini seperti yang diperkirakan “Juno”...saling menimpali dan ngerjain antar teman terutama Riza, Novita dan Candra di bully habis pokoke....sehingga muncul istilah “Juno Bangets” atau JB untuk anjangsana teman hari ini. Semoga Anjangsana ini menjadi wadah silaturahmi yang terus berkelanjutan sebagai keluarga besar alumni padmanaba….amin









Agenda